Saturday, March 24, 2012

Kisahku(web DDHK)2

anita kejoraOleh Anita Sri Rahayu
Kita boleh saja lupa dengan yang telah terucap dari kedua bibir kita atau dari hati. Meskipun orang yang kita tuju dengan janji itu tak pernah tahu, tak pernah menagih, tapi tidak demikian dengan Tuhan. Dia Maha Mendengar, Mahatahu perbuatan hamba-Nya. Bagi-Nya tidak ada beda janji itu diucapkan secara keras, pelan, atau hanya terlintas di hati. Janji itu wajib dilaksanakan.

Perempuan pada dasarnya adalah mahluk lemah. Setegar apa pun dia, pasti membutuhkan naungan lelaki sebagai pemimpin, pembimbing yang penuh kasih sayang. Perempuan akan senang menjadi perhiasan yang dijaga, dirawat, dan dihargai.

Menurutku, itu sederetan alasan yang tidak munafik, kenapa perempuan yang normal ingin menikah, termasuk aku. Apa hubungan semua ini dengan janji bagiku?

Tentu ada hubungannya. Ini dia kisahku. Kisah talikasih yang terputus karena janjiku, mungkin.
Kejadian ini aku alami dalam masa kontrak kerjaku yang kedua sebagai Buruh Migran Indonesia Hong Kong (BMI HK). Di perumahan elite “Beverly Hills” Causeway Bay, jantung kota negeri beton, sekitar tahun 2009.
Tak seperti yang tertera pada kontrak kerja, aku hanya ditugaskan melakukan pekerjaan rumah. Tapi ternyata aku harus menjadi koki mahir bagi keluarga bosku ini,  “plus” harus juga menjenguk nenek sambil masak makanan untuknya.

Kenapa aku bilang koki mahir? Karena bosku itu suka ta majong (main mahjong/judi) di rumahnya. Sering ia mengundang tamu, kawan sekantor atau saudaranya, untuk main mahjong dan tentunya makan-makan. Semua menunya aku yang harus menyiapkan. Rasanya kaki, tangan, dan otakku itu tak pernah bersitirahat, dari jam 6 pagi hingga jam 2 malam. Terkadang aku tidur sambil merintih saking capeknya mungkin. Tapi aku selalu merasa Allah Swt bersamaku dalam kesulitan hidup yang aku hadapi.

Dalam situasi yang berat ini, Tuhan hadirkan seseorang yang sangat baik dan selalu memberikan “support” padaku –sebut saja pacar. Meskipun pada akhirnya, aku tahu dia hanya perantara Allah untuk mengujiku agar lebih baik dan ingat akan janjiku.

Dia setia dan mengerti keadaanku. Perhatian, meski hanya lewat telepon. Ini jadi enegri bagiku. Aku merasa ada yang perduli dengan rasa letihku bekerja.

Singkat cerita, kami sepakat menikah setelah habis masa kontrak kerjaku tahun 2010. Hari yang berat tak aku hiraukan lagi. Aku lewati penuh semangat. Bahkan, hari libur saja aku gunakan untuk melanjutkan sekolah paket C (SMA) dan kursus komputer di YMCA HK.

Aku merasa Allah sangat baik, sudah mempertemukan aku dengan pacaku itu, sehingga aku harus menjadi wanita dewasa yang pantas menerima kebaikan Tuhan itu. Aku isi hari dengan do’a dan kerja keras.
Tapi, apakah jika kita sudah berusaha baik, kemudian Allah tidak menguji? Tidak. Manusia akan diuji agar menjadi insan yang lebih baik. Itu menurutku. Saat telah mengalami pukulan berat putusnya hubungan dengan pacarku. Dia menikah dengan perempuan lain.

Kabar itu aku dengar dari saudaranya, tepat saat hari ulang tahunku yang ke-24. Itu kado yang paling berharga dalam hidupku. Kado yang membuatku sadar akan janjiku pada Tuhan.
Meski sebelum menyadari itu semua, aku sempat bertanya pada Tuhan, kenapa harus sekarang? Saat aku sudah hampir lulus SMA dan wisuda di YMCA? Kenapa dia pergi saat aku selesai melewati hari yang berat. Kurang baik? Atau apa salahku?

Setelah bersujud di sepertiga malam, air mataku tak juga menjawab deretan pertanyaan itu. Akhirnya aku bersandar pada dinding kamarku yang sempit, hanya pas untuk badan, mirip ukuran kuburan.
Ya… Robb, jika mati saja nanti aku sendiri. Aku takkan sedih lagi kehilangan dia, tapi berikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku, Tuhan.

Kemudian aku teringat saat rasa sakit di tubuhku tahun 2006 silam. Teringat benjolan di paha kiriku yang membuat kondisi kesehatanku memburuk, bahkan beratku tak lebih bari 37 kg.
Lalu teringat wajah sedih ibuku, sorotan lampu empat penjuru di ruang operasi RS Arjawinangun Cirebon. Semua bayangan mengerikan semakin menambah air mataku tumpah. Janjiku pada Tuhan saat aku merasa maut sudah di sisi kiri dan kananku. Janjiku pada Tuhan yang aku ucapkan lirih sekali dalam hati. Janjiku pada Tuhan yang telah menyembuhkan kanker itu.

Aku dibantu suster untuk ganti baju operasi warna hijau muda. Terkulai lemah, sesaat setelah ibuku yang aku sayangi, yang tak tahu membaca isi tulisan surat perjanjian dari petugas rumah sakit. Ibuku yang aku muliakan setelah Tuhan dan Rasul-Nya. Ibuku yang jadi spirit dalam hidupku itu menggunakan cap jempol pada surat perjanjian opersiku, hidup dan matiku.

Ibuku yang hanya bisa menemaniku hingga ke pitu ruang operasi, kemudian aku bertemu dokter beserta stafnya. Semua berseragam hijau muda, sama seperti baju operasi yang aku kenakan.
Aku berada di atas ranjang, di bawah lampu yang menyilaukan, di antara dering suara benda tajam, gunting, cepitan, dan entah apalagi. Tabung oksigen dengan selang sekarang ada di mulut serta dihungku. Ada hawa dingin yang aku hirup, tapi aku masih sadar. Bahkan, hinggga suntikan bius yang ketiga kali di selang itu.
Hatiku lirih, berkata, Tuhan.. andai Kau panjangkan usiaku, aku akan bahagiakan ibuku dan mengabulkan keinginannya naik unta di depan rumah-Mu, Baitullah.

Kemudian aku merasa sangat sepi, ada di padang jingga yang sunyi. Aku duduk tanpa suara, seakan menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Lalu ada rasa perih di kaki kiriku, lalu aku dengar suara ibuku ”nyebut.. Nok, sadar Nok… istighfar, Astagfirullahal ‘azhiiiim…!”

Tuhan berikan aku umur panjang untuk memenuhi janjiku itu. Janji keberangkatan ibuku naik haji. Setelah jutaan liku, aku bisa berada di HK mencari uang yang halal. Setelah membiayai adik sekolah, memperbaiki rumah, akhirnya ada pacarku yang telah menikah itu.

Sungguh aku lupa akan janjiku pada Allah. Aku hentikan tangisanku, sedih dan merasa kehilangan memang. Tapi Allah membuat hatiku lebih terbuka.
Allhamdulillah, aku sudah menepati janjiku pada Tuhan. November tahun 2011 lalu, ibuku sudah menunaikan ibadah haji.

“Makasih ya Nit air zam-zamnya, kenapa cepat sekali ibumu bisa berangkat? Padahal, banyak lho yang tidak kebagian kusri, bukan karena mereka ‘ga punya uang,” ujar salah satu kawanku.
“Iya, alhamdullah.. padahal dana ibuku aku bayar nyicil, Allah pasti ikut andil,” jawabku, penuh rasa syukur.

Itulah secarik kisah kasihku kawan. Jangan merasa tersakiti jika diuji. Pasti maksud Allah Swt baik pada kita. Jangan takut tidak kebagian jodoh, karena firman-Nya sudah menjamin kita hidup berpasang-pasangan, bukan?

Yang lebih penting, jangan mengumbar janji jika tidak terpaksa. Karena janji adalah utang. Utang itu harus di bayar, meski sudah di alam akhirat. Wallahu a’lam. (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org).*

No comments:

Post a Comment